Inspirasi

Perusahaan Masih Ragu Rekrut Difabel? Cerita di Matahari Ini Jawabannya

Y2F.Media — Hasna dan Hasni, dua perempuan kembar penyandang disabilitas, tak pernah menyangka namanya akan terpajang sebagai karyawan resmi di salah satu gerai ritel terbesar di Indonesia: Matahari Department Store. Di tengah masih kuatnya stigma bahwa difabel “berisiko tinggi” dan membutuhkan biaya adaptasi mahal, langkah Matahari merekrut keduanya menjadi sorotan baru di peta dunia kerja Indonesia.

Dalam sejumlah riset dan data ketenagakerjaan, penyandang disabilitas masih tertinggal jauh dari akses kerja formal meski payung hukum sudah jelas. UU No. 8 Tahun 2016 menjamin hak kerja setara bagi difabel, namun implementasinya berjalan pelan, tertahan di level regulasi tanpa cukup dukungan fasilitas dan pelatihan praktis. Badan Pusat Statistik 2025 mencatat hanya sekitar 45 persen dari 22,97 juta penyandang disabilitas yang bekerja, dan mayoritas justru terserap di sektor nonformal dengan perlindungan kerja minim. Di titik inilah cerita Hasna dan Hasni muncul sebagai pengecualian penting: bukti bahwa ketika perusahaan serius menata rekrutmen inklusif, hasilnya bukan sekadar simbolik.

Di lantai toko, Hasna dan Hasni hadir bukan sebagai “pemanis” kebijakan CSR, tetapi pekerja yang menjalankan peran profesional—dengan pelatihan, penyesuaian tugas, dan dukungan komunikasi yang dirancang agar mereka bisa produktif. Pengalaman mereka menegaskan satu pesan kunci: difabel tidak kekurangan kemampuan, yang kurang justru ruang dan kesempatan. Studi perbandingan dengan Denmark, Prancis, dan Irlandia menunjukkan bahwa ketika kebijakan inklusi diikuti fasilitas nyata dan komitmen manajerial, tingkat partisipasi difabel di pasar kerja meningkat signifikan. Di Indonesia, langkah Matahari memperlihatkan bagaimana paradigma “difabel sebagai beban” dapat bergeser menjadi “difabel sebagai sumber daya produktif” ketika perusahaan mengubah cara pandangnya.

Dari sudut pandang ruang redaksi, kisah ini bukan sekadar potret inspiratif dua individu. Penerimaan Hasna dan Hasni menjadi cermin sekaligus ujian bagi perusahaan-perusahaan lain: apakah inklusi akan berhenti sebagai jargon promosi, atau benar-benar diterjemahkan menjadi lowongan kerja yang terbuka, proses seleksi yang adil, dan ruang kerja yang ramah difabel. Para ahli mengingatkan, kebijakan tanpa perubahan budaya organisasi hanya akan melahirkan “inklusif di atas kertas”. Sebaliknya, ketika difabel diberi kepercayaan, banyak perusahaan justru menemukan loyalitas tinggi, motivasi kuat, dan daya adaptasi yang memperkaya iklim kerja.

Di luar tembok toko, dampak sosialnya bergerak lebih jauh. Publik melihat bahwa penyandang disabilitas bisa berdiri di garis yang sama sebagai pekerja formal, bukan sekadar penerima belas kasihan. Generasi muda difabel mendapat contoh konkret bahwa jalur karier di sektor formal bukan hal mustahil, selama ada kebijakan yang membuka pintu dan lingkungan kerja yang siap beradaptasi. Bagi dunia usaha, pesan yang mengemuka jelas: inklusi bukan hadiah, tetapi hak; bukan beban, tetapi investasi organisasi jangka panjang. Dan bagi ekosistem ketenagakerjaan Indonesia, cerita dua karyawan difabel di Matahari ini menandai satu hal: saatnya perusahaan meninjau ulang cara mereka memandang talenta, sebelum mereka kehilangan sumber daya manusia yang selama ini diabaikan.


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × one =