Komunitas

Sentuhan Tangan Tangguh Perempuan: Peran Krusial Ibu-Ibu dalam Membangun Jembatan Titian Persatuan Cilojami

Y2F.Media — Di ujung batas administratif antara Kabupaten Bandung Barat dan Cianjur, tepatnya membentang di atas aliran sungai yang memisahkan Kampung Cilonok dan Kampung Jamilega, kini telah berdiri tegak Jembatan Titian Persatuan Cilojami. Jembatan baja sepanjang 45 meter ini hadir menggantikan jembatan bambu rapuh yang dibangun pada tahun 2007, yang selama 19 tahun membuat warga harus menahan napas cemas setiap kali musim hujan tiba. Keberhasilan berdirinya jembatan ini bukanlah sekadar hasil kerja dari pihak luar semata, melainkan buah manis dari filosofi “Swadaya Sadayana” sebuah semangat gotong-royong di mana seluruh elemen warga mengambil peran nyata. Di balik kemegahannya, tersimpan kisah inspiratif tentang peran krusial kaum perempuan dan ibu-ibu desa yang menjadi pilar penting pembangunan.

Pembangunan Jembatan Titian Persatuan mematahkan stigma bahwa proyek infrastruktur fisik hanyalah urusan kaum laki-laki. Para ibu di wilayah Cilonok dan Jamilega menunjukkan ketangguhan yang luar biasa dengan terjun langsung ke lapangan. Tangan-tangan tangguh perempuan ini tak ragu memindahkan batu-batu kali dari dasar sungai untuk membangun fondasi jembatan. Hebatnya lagi, kaum ibu juga ikut serta dalam tahapan pemasangan besi struktur jembatan dan bahkan berpartisipasi aktif dalam proses konstruksinya.

Sinergi di desa tersebut tercipta dengan sangat harmonis. Ketika para bapak bekerja keras menghancurkan batu kali secara manual, menggali tanah, hingga mengelas baja di bawah terik matahari dan guyuran hujan, para ibu lainnya dengan sigap memastikan dapur tetap mengepul. Mereka memasak dan menyiapkan makanan untuk bapak-bapak yang sedang kerja bakti, memastikan energi warga terus terjaga.

Motivasi utama yang menggerakkan para ibu ini sangatlah menyentuh hati, yakni demi masa depan, pendidikan, dan keselamatan generasi penerus mereka. Iis, salah satu warga setempat yang aktif dalam pembangunan, menyuarakan perasaannya dengan penuh kelegaan. Ia menuturkan bahwa kaum ibu rela ikut membangun jembatan agar anak-anak mereka tidak lagi harus berputar jauh untuk berangkat ke sekolah, melainkan bisa melintas dengan jarak yang lebih dekat dan aman.

Pembangunan yang diinisiasi oleh Aksi Bersama ini sengaja menggunakan pendekatan “gerakan” (movement), bukan pendekatan “program” sentralistik. Masyarakat tidak dibiarkan hanya menjadi penonton, melainkan dilibatkan sebagai aktor utama sejak fase perencanaan hingga eksekusi. Pada akhirnya, Jembatan Titian Persatuan Cilojami bukan sekadar akses fisik penghubung dua kabupaten, melainkan sebuah monumen hidup dari keringat dan persatuan warga. Keterlibatan penuh para ibu telah menumbuhkan rasa kepemilikan yang mendalam, memastikan bahwa jembatan baja ini akan terus dirawat dan dijaga bersama demi masa depan yang lebih cerah


>> Gabung di Channel WhatsApp πŸ‘‰ Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =