Oleh: Asep Supriatna, S.Pd., M.Ikom
(Ketua Guru Literasi Jakarta Pusat II / GliterJak JP2)
y2fmedia — Setiap tanggal 1 Juni, kita tidak sekadar memutar kembali jarum jam sejarah ke tahun 1945, saat Bung Karno dengan penuh artikulasi meluncurkan lima prinsip dasar negara di depan sidang BPUPKI. Lebih dari itu, Hari Lahir Pancasila adalah momen krusial bagi kita untuk melakukan “tadarus kebangsaan”—membaca, mengeja, dan memaknai kembali sejauh mana lima sila tersebut hidup dalam denyut nadi keseharian kita.
Tahun 2026 ini, pemerintah melalui BPIP mengusung tema yang sangat kuat: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Sebuah tema yang tidak hanya menuntut kita menengok ke dalam (internal bangsa), tetapi juga menatap keluar (kancah global). Namun, sebagai pendidik dan penggerak literasi di Jakarta Pusat, saya melihat ada satu benang merah tebal yang menjembatani tema besar tersebut dengan realitas kita hari ini: Literasi.
1. Pancasila di Ruang Digital: Dari Sentimen Menjadi Komitmen
Hari-hari ini, tantangan terbesar Pancasila sebagai pemersatu bangsa bukan lagi pemberontakan fisik, melainkan perang narasi di ruang digital. Media sosial kita kerap menjadi medan polarisasi, di mana hoaks, jempol yang mendahului pikiran, dan ujaran kebencian dengan mudah merobek tenun kebangsaan.
Di sinilah Literasi Digital dan Media menemukan urgensinya. Pancasila tidak boleh hanya menjadi pajangan dinding kelas atau teks hafalan upacara. Pancasila harus bermutasi menjadi critical thinking (kemampuan berpikir kritis) saat kita berselancar di dunia maya.
Ketika seorang guru atau siswa mampu menyaring informasi sebelum membagikannya, ketika mereka mampu menolak provokasi dan memilih memproduksi konten yang sejuk, di situlah Sila Ketiga—Persatuan Indonesia—sedang diamalkan secara digital. Literasi adalah senjata utama kita untuk merebut ruang digital dari tangan-tangan pemecah belah.
2. Merawat Identitas Nasional Melalui Literasi Budaya
Isu lain yang mengemuka tahun ini adalah kekhawatiran terkikisnya identitas nasional generasi muda di tengah gempuran budaya global. Sebagai pendidik di jantung ibu kota, kita menyaksikan bagaimana anak-anak kita terkadang lebih fasih membaca tren dunia ketimbang membaca sejarah bangsanya sendiri.
Lewat wadah Guru Literasi Jakarta Pusat II (GliterJak JP2), kita mengemban misi suci: menghidupkan kembali memori kolektif bangsa. Literasi bukan cuma urusan bisa membaca aksara, tapi membaca makna. Kita perlu memfasilitasi anak didik kita untuk menuliskan cerita-cerita lokal, membaca biografi para pendiri bangsa, dan mendiskusikan nilai gotong royong yang menjadi intisari Pancasila. Menjaga Garuda Pancasila tetap sakral di hati generasi Z dan Alpha hanya bisa dilakukan jika kita berhasil menumbuhkan kecintaan membaca sejarah mereka sendiri.
3. Fondasi Perdamaian Dunia: Literasi Geopolitik dan Kemanusiaan
Ketika tema tahun ini bicara tentang Pancasila sebagai “Fondasi Perdamaian Dunia” di tengah tensi geopolitik global yang kian memanas, apa peran kita sebagai pegiat literasi?
Jawabannya adalah Literasi Global dan Empati. Melalui dunia literasi, kita membuka jendela dunia bagi anak-anak didik kita agar mereka memahami bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja. Kita ajarkan mereka membaca situasi global bukan dengan kacamata kebencian, melainkan dengan kacamata Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Bangsa yang literat adalah bangsa yang memiliki kapasitas berpikir tinggi untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Dari ruang-ruang kelas di Jakarta Pusat, kita sedang mendidik calon-calon diplomat, pemikir, dan pemimpin masa depan yang akan membawa prinsip perdamaian Pancasila ke panggung dunia.
Menuliskan Masa Depan Indonesia
Pancasila adalah sebuah “Living Ideology”—ideologi yang hidup dan bergerak. Ia bukan teks mati. Seperti halnya literasi yang terus berkembang dari media cetak hingga kecerdasan buatan, Pancasila pun harus terus kontekstual.
Saya mengajak seluruh rekan-rekan guru, khususnya di lingkungan GliterJak JP2, mari kita jadikan momentum 1 Juni ini untuk meneguhkan komitmen. Jadikan gerakan literasi sebagai motor penggerak untuk membumikan Pancasila. Mari kita didik generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kokoh secara karakter; generasi yang jemarinya menuliskan kedamaian, pikirannya merajut persatuan, dan hatinya berpijak pada Pancasila.
Selamat Hari Lahir Pancasila 2026. Dari Jakarta Pusat untuk Indonesia, mari membaca zaman, mari merawat persatuan!








