Y2F.Media — Pekan kedua Gathering Nasional (Gathnas) Turun Tangan 2025 diwarnai agenda yang menegaskan komitmen relawan terhadap isu keadilan. Kamis kemarin (13/11/2025), para relawan ikut hadir dalam Aksi Kamisan di bawah deretan payung hitam yang ikonik. Kehadiran mereka menjadi respons langsung terhadap wacana kuat yang mencuat pekan ini mengenai pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto.
Konsistensi: Pelajaran di Bawah Payung Hitam
Di tengah kerumunan yang menuntut keadilan, para relawan kembali diingatkan bahwa sejarah bangsa ini masih menyisakan banyak luka yang belum sembuh. Aksi Kamisan menjadi panggung penolakan yang tegas, menunjukkan bahwa pengakuan negara tidak boleh menghapus kenyataan pahit pelanggaran HAM yang pernah dialami ribuan orang.
Para relawan bertemu dengan figur-figur inspiratif yang menjaga api keberpihakan pada kemanusiaan, seperti Wanda Hamidah, Ibu Sumarsih—yang puluhan tahun berjuang mencari keadilan untuk sang anak—serta Bivitri Susanti, yang menguatkan publik dengan analisis kritis tentang hukum dan demokrasi. Dari mereka, para relawan belajar bahwa konsistensi adalah bentuk keberanian; berani hadir dan bersuara, meskipun negara seringkali memilih diam.
Menjaga Ingatan, Menolak Rekayasa Sejarah
Setiap poster dan payung hitam yang berdiri tegak hari itu menegaskan bahwa Aksi Kamisan bukan sekadar ritual mingguan. Ia adalah ruang di mana ingatan dipertahankan agar sejarah tidak dipoles. Bagi para relawan, kehadiran ini lebih dari solidaritas simbolik; ini adalah refleksi tanggung jawab moral. Generasi muda punya tugas memastikan masa lalu tidak direkayasa ulang.
Di balik payung hitam itu, para peserta Gathnas merasakan harapan kecil: bahwa masa depan yang lebih adil hanya bisa dibangun jika keberanian untuk mengakui kesalahan dijadikan fondasi. Selama ada yang terus hadir dalam Aksi Kamisan, perjuangan menuntut keadilan tidak akan pernah padam.









