Y2F.Media — Sebagai penutup rangkaian pleno hari pertama Rapat Kerja (Raker) Aksi Bersama di Puncak, Divisi Community Development (Comdev) memaparkan data yang cukup mengejutkan. Di tengah besarnya antusiasme digital, Comdev menyoroti kesenjangan antara jumlah relawan di grup media sosial dengan mereka yang benar-benar siap berkeringat di lapangan.
Fenomena Relawan Digital vs Aksi Lapangan
Berdasarkan studi kasus di Provinsi Banten, Divisi Comdev mengungkapkan bahwa dari total 412 relawan yang tergabung dalam grup komunikasi, hanya sekitar 20 orang atau 5% yang terkategori aktif secara konsisten. Relawan aktif ini adalah mereka yang mau hadir dalam pertemuan tatap muka, terjun ke lokasi pembangunan jembatan, serta berkontribusi aktif dalam koordinasi melalui zoom.
Namun, angka 5% ini dipandang bukan sebagai kelemahan, melainkan peluang pemetaan kekuatan. Divisi Comdev menilai mereka yang bertahan memiliki keahlian beragam yang dapat diproyeksikan sebagai tulang punggung gerakan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Para “Teman Aksi” ini dianggap hanya butuh dipantik dan diberikan arahan yang jelas untuk mulai merancang kemandirian strategi penguasaan teritori yang lebih luas.
Target 3 Bulan: Mencetak Community Organizer
Untuk menjawab tantangan tersebut, Comdev menetapkan skema pendampingan intensif selama tiga bulan. Periode ini dinilai cukup untuk menyeleksi tim inti, mengukur jangkauan kapasitas, dan membangun komunitas lokal yang diisi oleh calon-calon community organizer (penggerak komunitas) di wilayah masing-masing.
Dalam pelaksanaannya, Comdev akan berkolaborasi erat dengan tim Admin, Fasilitator, dan Media. Pasca pembekalan tiga bulan, para relawan daerah akan diberikan akses khusus ke pusat, pemahaman mendalam tentang homeless media, serta pengembangan dampak politik dari setiap aksi nyata yang dilakukan. Fokus utama ke depan adalah memastikan bahwa jembatan yang dibangun tidak hanya menghubungkan dua desa secara fisik, tetapi juga membangun kemandirian warga dalam mengelola aset dan potensi daerahnya sendiri.
Sesi ini mempertegas bahwa kualitas relawan jauh lebih menentukan daripada sekadar kuantitas di dunia maya bagi keberlanjutan gerakan Aksi Bersama.








