Y2F.Media — Di tengah ketatnya persaingan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), sebuah kisah inspiratif muncul dari SMK N 1 Bumijawa. Aisatun Nabila Putri, seorang siswi yang secara blak-blakan mengaku bukan tipe pelajar “ambisius”, berhasil mengamankan kursi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Keberhasilannya ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa masuk perguruan tinggi negeri (PTN) hanya bisa diraih oleh mereka yang terpaku pada nilai akademik semata.
Momen pengumuman kelulusan Aisatun tergolong unik karena dilakukan secara langsung melalui siaran live di platform TikTok. Di hadapan para penontonnya, Aisatun sempat berseloroh mengenai kemungkinan dirinya mendapatkan hasil merah (tidak lulus). Namun, ketegangan memuncak saat ia menekan tombol cetak pada laman resmi seleksi. Setelah proses pemuatan data yang cukup lama, layar laptopnya menampilkan warna biru—simbol resmi kelulusan SNBP.
“Awalnya saya pikir itu bukan hasil akhir, saya pikir masih ada halaman selanjutnya. Ternyata itu benar-benar hasilnya,” ungkap Aisatun. Suasana haru seketika pecah saat ia memberi tahu sang ibu mengenai keberhasilannya masuk ke universitas impian banyak orang tersebut. Notifikasi di media sosialnya pun seketika dibanjiri ucapan selamat dari rekan dan pengikutnya yang menyaksikan momen bersejarah itu secara daring.
Aisatun mengakui bahwa perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Ia sempat mendapatkan teguran karena sikapnya yang terlihat terlalu santai dalam mengurus berkas administrasi sekolah. Namun, di balik sikap santainya, Aisatun memiliki modal kuat yang tidak dimiliki semua orang: rekam jejak organisasi yang cemerlang.
Selama tiga tahun, ia aktif dalam gerakan Pramuka dan konsisten meraih nilai “A” dalam kegiatan tersebut. Tidak sekadar mengenakan seragam cokelat, Aisatun mencatatkan berbagai prestasi kompetitif, mulai dari Juara 2 Lomba Cerdas Tangkas Pramuka (LCTP) tingkat kabupaten hingga Juara 3 lomba Internet of Things (IoT) pada ajang Raimuna Cabang. Prestasi di bidang teknologi dan kepemimpinan inilah yang disinyalir menjadi poin krusial dalam penilaian SNBP.
Bagi Aisatun, Pramuka bukan sekadar penghabis waktu, melainkan tempat ia belajar tentang kemandirian, manajemen P3K, hingga teknik bertahan hidup (survive). “Kalau hanya mengandalkan nilai rapor, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini. Pramuka mengajarkan saya untuk tidak egois dan belajar menghargai proses sebagai sebuah keluarga,” tambahnya.
Kisah Aisatun Nabila menjadi pengingat bagi para siswa lainnya bahwa pengalaman hidup dan keaktifan di luar kelas memiliki bobot yang nyata. Ia menekankan pentingnya mencari keseimbangan antara belajar dan berorganisasi. Keberhasilannya menembus Unsoed membuktikan bahwa menjadi versi terbaik diri sendiri, dengan segala keunikan dan pengalaman organisasi yang ditekuni, mampu membuka pintu menuju masa depan yang cerah. Kini, dari lereng Bumijawa, Aisatun siap melangkah menuju kampus Unsoed untuk memulai babak baru dalam hidupnya.








