Banyak tempat latihan beladiri berdiri dengan semangat juang yang luar biasa. Latihan keras, keringat bercucuran, mental ditempa tanpa kompromi. Di dalam ruang latihan, kita belajar disiplin, hormat, dan keberanian. Namun di balik semua itu, ada satu realita pahit yang jarang dibicarakan secara jujur: terlalu banyak pelatih hebat yang hidup pas-pasan, atlet berprestasi yang kebingungan setelah masa tanding berakhir, dan tempat latihan yang stagnan secara ekonomi.
Pertanyaannya sebenarnya sederhana, tapi menampar kesadaran kita bersama:
kalau beladiri mampu membentuk mental juara, kenapa ekosistemnya justru sering kalah secara finansial?
Pertanyaan inilah yang menjadi titik api dalam Workshop Sportpreneur yang digelar di Bogor Indah Nirwana Hotel, 18 Desember 2025. Dalam forum itu, peserta tidak diajak bermimpi terlalu tinggi, tapi justru diajak melihat realita apa adanya. Melalui sudut pandang tajam dari Bima Sinung Widagdo, satu pesan disampaikan dengan tegas: beladiri tidak bisa terus dikelola dengan pola lama, sementara dunia di luar sudah bergerak cepat, digital, dan penuh peluang baru.
Beladiri di Indonesia sejatinya sangat kaya nilai. Ia mengajarkan disiplin, loyalitas, keberanian, dan konsistensi—nilai-nilai yang bahkan dicari oleh dunia bisnis modern. Masalahnya bukan pada nilai. Masalahnya ada pada sistem pengelolaan. Banyak tempat latihan berjalan apa adanya, tanpa arah jangka panjang, tanpa strategi, dan tanpa keberanian untuk berpikir lebih luas. Semua dilakukan dengan niat baik, tapi niat baik saja tidak cukup untuk bertahan di era kompetisi terbuka.
Ketika tempat latihan hanya fokus pada latihan fisik, tanpa membangun identitas, tanpa mengelola komunitas, dan tanpa memikirkan keberlanjutan pelatih serta atlet, maka cepat atau lambat ia akan tertinggal. Bukan karena beladirinya kalah, tetapi karena cara mengelolanya kalah relevan dibanding gym modern, olahraga tren, atau ekosistem digital yang lebih dekat dengan generasi muda.
Di sinilah konsep sportpreneur menjadi penting untuk dipahami dengan cara yang benar. Sportpreneur bukan berarti mengorbankan nilai demi uang. Justru sebaliknya, sportpreneur adalah cara menjaga nilai agar tetap hidup dan berdampak. Ini bukan soal sekadar jualan kaos atau menarik iuran lebih mahal. Ini soal pola pikir. Cara melihat tempat latihan bukan hanya sebagai ruang latihan, tapi sebagai pusat nilai. Cara melihat atlet bukan hanya sebagai mesin prestasi, tapi sebagai aset jangka panjang. Cara melihat komunitas bukan sekadar kumpulan orang, tapi sebagai kekuatan sosial dan ekonomi.
Dengan cara pandang ini, beladiri tidak kehilangan jati diri. Ia justru menemukan relevansinya di zaman baru.
Tata kelola inovasi menjadi kunci berikutnya. Anak muda hari ini hidup di dunia yang cepat, visual, dan penuh pilihan. Kalau tempat latihan masih berjalan dengan pola 20 tahun lalu, jangan heran kalau mereka datang sebentar lalu pergi. Inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan meng-upgrade cara main. Mengelola tempat latihan dengan lebih rapi dan transparan, bercerita lewat media sosial dengan jujur dan inspiratif, mengemas latihan sebagai pengalaman yang bermakna, serta berani berkolaborasi dengan dunia pendidikan, industri kreatif, dan sektor lain di luar olahraga.
Yang menarik, sebenarnya atlet beladiri sudah punya modal mental wirausaha yang sangat kuat. Mereka terbiasa jatuh, bangkit, dan mencoba lagi. Itu adalah fondasi penting dalam dunia usaha. Sayangnya, banyak yang hanya jago di arena, tapi tidak pernah diajak berpikir tentang strategi hidup di luar arena. Padahal, prestasi itu penting, tapi masa depan jauh lebih penting. Ketika atlet dan pelatih mulai berpikir sebagai pencipta peluang, bukan hanya pelaksana latihan, level permainan mereka langsung naik.
Potensi bisnis di dunia beladiri sesungguhnya sangat besar. Pasarnya ada, ceritanya kuat, komunitasnya loyal. Yang sering kurang hanyalah keberanian untuk mengelola potensi itu secara serius. Branding komunitas misalnya, bukan soal gaya-gayaan atau logo mahal. Branding adalah soal cerita yang konsisten, nilai yang jelas, dan kepercayaan yang dibangun dari waktu ke waktu. Komunitas yang kuat bukan hanya bertahan, tapi mampu tumbuh dan menarik kolaborasi yang lebih luas.
Pada akhirnya, beladiri tidak kekurangan orang hebat. Yang sering kurang adalah keberanian untuk berubah dan berpikir lebih strategis.
Workshop Sportpreneur ini menjadi pengingat keras bahwa jika beladiri ingin terus hidup, dihormati, dan diwariskan ke generasi berikutnya, maka tempat latihan tidak boleh berhenti hanya sebagai ruang latihan. Ia harus tumbuh menjadi pusat nilai, pusat peluang, dan bagian dari industri olahraga yang sehat dan berkelanjutan.
Saya secara pribadi sangat mendukung kegiatan seperti Workshop Sportpreneur ini. Saya percaya, inisiatif semacam ini adalah langkah positif untuk membuka wawasan, membangun keberanian berpikir baru, dan mendorong lahirnya ekosistem olahraga yang lebih sehat. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pengelolaan olahraga beladiri, tetapi juga berdampak nyata pada peningkatan taraf hidup manusia, menciptakan manusia-manusia yang lebih berkualitas, serta melahirkan lebih banyak pengusaha baru di industri olahraga Indonesia.








