EventKomunitas

Nongkrong di Kota Lama, Belajar di Papringan: Menapaki Budaya Versi Anak Muda

Y2F. Media — Perjalanan tidak selalu tentang destinasi akhir. Bagi Bangunkota, perjalanan justru menjadi cara untuk belajar tentang kota, komunitas, dan budaya yang hidup di antara keduanya. Akhir Januari lalu, Bangunkota melakukan perjalanan budaya ke Jawa Tengah, menyusuri Semarang, Ambarawa, hingga Temanggung, dengan satu tujuan utama: melihat langsung bagaimana ruang budaya dirawat dan dihidupkan oleh komunitas.

Kota Lama: Nongkrong yang Penuh Makna

Perjalanan dimulai dari Semarang, tepatnya pada 31 Januari 2026. Kawasan Kota Lama Semarang menjadi titik awal. Di sini, Bangunkota tidak sekadar berjalan-jalan menikmati bangunan tua dan sudut kota yang estetik, tapi juga membaca ulang fungsi ruang kota hari ini.

Kota Lama menjadi contoh bagaimana ruang bersejarah bisa bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, tempat bertemu, berkarya, dan berbagi cerita. Di antara bangunan kolonial dan jalanan lama, muncul diskusi santai soal kota, ruang publik, dan bagaimana sejarah bisa tetap relevan bagi generasi muda.

Ngobrol Bareng Komunitas, Bukan Sekadar Diskusi

Masih di Semarang, perjalanan berlanjut dengan diskusi bersama Komunitas Hysteria, komunitas seni dan budaya yang konsisten membuka ruang wacana kritis. Obrolan berkembang dari isu seni, pengelolaan ruang budaya, sampai peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan praktik budaya di tengah keterbatasan ruang.

Diskusi ini memperlihatkan satu hal penting: budaya tidak selalu lahir dari ruang besar dan formal, tapi sering tumbuh dari ruang-ruang kecil yang dirawat bersama.

Ambarawa: Menyapa Sejarah dan Ekraf

Dari Semarang, Bangunkota melanjutkan perjalanan ke Ambarawa. Salah satu titik yang dikunjungi adalah Benteng Ambarawa, ruang bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang bangsa. Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang membentuk hari ini.

Di Ambarawa, Bangunkota juga bertemu dengan Mas Dimas, Exco ICCN sekaligus Anggota Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah. Pertemuan ini membuka obrolan tentang ekosistem ekonomi kreatif, peran komunitas, serta peluang kolaborasi lintas daerah untuk membangun ruang-ruang kreatif yang berkelanjutan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kantor Komite Ekraf Jawa Tengah yang berada di kawasan Rawa Pening. Lanskap alam di sekitarnya memberi perspektif baru tentang hubungan antara ruang, budaya, dan potensi ekonomi kreatif berbasis lokal.

Papringan: Belajar dari Pasar yang Berbeda

Tujuan utama perjalanan ini adalah Pasar Papringan Ngadiprono, Temanggung. Pasar ini bukan pasar biasa. Digelar setiap Minggu Pon dan Minggu Wage pukul 06.00–12.00 WIB, Pasar Papringan hadir dengan nuansa tradisional yang kuat di tengah kebun bambu.

Hal paling unik dari Pasar Papringan adalah sistem transaksinya. Di sini, uang Rupiah tidak langsung digunakan. Pengunjung harus menukarkan uang mereka dengan kepingan bambu (pring) sebagai alat tukar resmi. Setiap 1 pring bernilai Rp2.000. Pring merupakan simbol filosofi hidup yang berakar pada kesederhanaan, keberlanjutan, dan kebersamaan. Pring dipilih karena bambu adalah material yang dekat dengan kehidupan warga, tumbuh cepat, dan ramah lingkungan mewakili siklus alam yang terus berulang. Sistem ini mendorong pengunjung untuk lebih sadar dalam berbelanja, menghargai proses produksi, serta menjaga agar nilai ekonomi tetap berputar di komunitas lokal.

Sistem ini bukan sekadar keunikan visual, tapi bagian dari upaya menjaga sirkulasi ekonomi lokal, membangun kesadaran nilai, dan memperkuat identitas pasar sebagai ruang budaya.

Budaya yang Dihidupi, Bukan Sekadar Dilihat

Bagi Bangunkota, Pasar Papringan menjadi contoh nyata bahwa budaya bisa hidup berdampingan dengan ekonomi, tanpa kehilangan nilai. Pasar ini menunjukkan bagaimana ruang budaya dapat dikelola bersama, berangkat dari warga, dan tetap relevan bagi generasi muda.

Perjalanan dari Kota Lama hingga Papringan menjadi refleksi bahwa membangun kota dan budaya tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Kadang, cukup dengan membuka ruang, merawat komunitas, dan memberi kepercayaan pada praktik lokal yang sudah berjalan.

————————————

Tentang Bangunkota

Bangunkota adalah gerakan komunitas kreatif yang berfokus pada penguatan ruang budaya, ruang publik, dan kolaborasi lintas komunitas di kota. Melalui perjalanan, diskusi, dan praktik baik, Bangunkota berupaya membaca kota sebagai ruang hidup—tempat alam, budaya, identitas, warga dan masa depan saling terhubung. Bangunkota percaya bahwa kota yang berdaya tumbuh dari komunitas yang aktif merawat ruang dan tradisi.

PJ dan Kerja Sama Media:
Dwitisya – Direktur Komunikasi & Kreatif Bangunkota – 085737719936 – Media Sosial: bangunkota.id


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 7 =