Oleh: Asep Supriatna, S.Pd., M.Ikom. (Wakil Kepala SDN Cempaka Putih Barat 01 & Penanggung Jawab Gerakan Literasi Jakarta Pusat 2)
y2fmedia — Hari ini, Rabu, 20 Mei 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-118. Lebih dari seabad yang lalu, fajar kesadaran nasional menyingsing lewat berdirinya Boedi Oetomo. Namun, di era disrupsi digital dan kecerdasan buatan saat ini, bagaimanakah kita mendefinisikan ulang esensi “Kebangkitan” tersebut dalam ruang hidup pendidikan kita?
Sejarah mengajarkan bahwa kebangkitan pertama pada tahun 1908 adalah sebuah perjuangan mengorganisasi kekuatan pikiran untuk lepas dari belenggu kolonialisme fisik. Para pendiri bangsa sadar bahwa senjata paling ampuh untuk merdeka bukan sekadar bambu runcing, melainkan ketajaman pena dan keluasan cakrawala berpikir. Hari ini, di tahun 2026, perang yang kita hadapi telah bergeser. Kita tidak lagi berhadapan dengan meriam, melainkan dengan banjir informasi, algoritma digital, dan tantangan global yang menuntut kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
Oleh karena itu, bagi kita di dunia pendidikan, Hari Kebangkitan Nasional tahun ini harus diletakkan sebagai momentum emas untuk menyalakan api Kebangkitan Literasi, khususnya di Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Pusat. Literasi tidak boleh lagi dipandang secara sempit sebagai sekadar kemampuan mengeja huruf atau membaca teks. Di abad modern ini, literasi adalah daya nalar, kecakapan memilah informasi, kemampuan memecahkan masalah (critical thinking), serta keberanian mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Laboratorium Kehidupan dan Kontekstualisasi Belajar
Sebagai Penanggung Jawab Gerakan Literasi Jakarta Pusat 2, saya meyakini bahwa kebangkitan literasi hanya akan tercipta jika kita berani meruntuhkan sekat-sekat kaku dinding ruang kelas. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang membawa anak-anak kita mendekat pada detak jantung masyarakatnya. Implementasi nyata dari visi ini telah kita saksikan bersama melalui berbagai program inovatif di satuan pendidikan, salah satunya seperti yang kami laksanakan di SDN Cempaka Putih Barat 01.
Ketika para siswa kelas 4 dibawa langsung ke pasar tradisional untuk praktik mata pelajaran IPAS, di sana mereka tidak sekedar membaca buku teks tentang ekonomi. Mereka sedang melatih literasi finansial dan literasi sosial; berinteraksi dengan pedagang, memahami alur distribusi, mengenal nilai mata uang, hingga merefleksikan sejarah barter. Begitu pula saat siswa menaiki MRT dan LRT dalam agenda Edutrip, mereka sedang membaca peradaban modern—belajar tentang budaya antre, rambu lalu lintas, dan ketertiban umum. Inilah hakekat literasi yang hidup, literasi yang kontekstual, dan literasi yang membangkitkan.
“Tugas kita sebagai pendidik di era modern ini bukan sekadar mencetak generasi yang mahir menghafal materi untuk menjawab soal ujian, melainkan melahirkan manusia-manusia tangguh yang literat, yang mampu membaca arah zaman dan menjawab tantangannya dengan karakter yang mulia.”
Sinergi Ekologi dan Karakter Bangsa
Kebangkitan literasi di Jakarta Pusat 2 juga erat kaitannya dengan literasi ekologi dan pembentukan karakter. Komitmen besar kita dalam mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai pengurangan sampah dari sumbernya—yang diwujudkan melalui deklarasi “Sekolah Bebas Sampah”, pembentukan Satgas Pengurangan Sampah, hingga gerakan pemasangan 100 poster edukasi pilah sampah—adalah bukti otentik bahwa literasi mampu menggerakkan perubahan perilaku. Murid yang literat adalah murid yang paham bahwa kecerdasan intelektual harus berbanding lurus dengan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan dan bumi tempat mereka berpijak.
Lebih dari itu, prestasi gemilang yang baru saja diraih oleh Wilayah Cempaka Putih, di mana sekolah kami berhasil menyabet predikat Juara Umum FLS3N tingkat kecamatan, menunjukkan bahwa literasi seni dan budaya kita tumbuh subur. Lewat lomba mendongeng, menulis cerita, gambar bercerita, pantomim, hingga menyanyi solo, anak-anak kita sedang merajut narasi kebangkitannya sendiri. Mereka mengasah rasa, memperhalus budi pekerti, dan membangun rasa percaya diri untuk menatap panggung yang lebih tinggi di tingkat Kota Administrasi Jakarta Pusat.
Menjalin Kolaborasi demi Indonesia Emas
Gerakan Literasi Jakarta Pusat 2 tidak akan mampu berjalan sendirian tanpa adanya orkestrasi dan kolaborasi yang harmonis. Kita membutuhkan sinergi yang kokoh antara jajaran pimpinan sekolah, guru, komite, orang tua murid, masyarakat, hingga sektor swasta. Dukungan nyata dari berbagai elemen bangsa, termasuk kepedulian yang diberikan oleh mitra kerja terhadap fasilitas pendidikan, merupakan suplemen berharga bagi percepatan gerakan ini.
Sebagai penutup refleksi, mari kita jadikan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 ini sebagai titik balik untuk berkomitmen penuh mengawal sistem pendidikan kita. Saat ini, di tengah berjalannya proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) TA 2026/2027, kita sedang bersiap menyambut tunas-tunas baru bangsa. Mari kita sambut mereka dengan ekosistem sekolah yang literat, inklusif, dan penuh kasih sayang.
Mari kita buktikan bahwa dari ruang-ruang kelas di Jakarta Pusat 2, akan lahir para pemimpin masa depan yang visioner—generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia hatinya, jujur perilakunya, dan disiplin tindakannya.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026. Bersama kita bangkit, bersama kita meliterasikan bangsa!








