Berita

Keberlanjutan Wastra Nusantara Bergantung Kemampuan Desainer Menghadirkan Karya Relevan Bagi Generasi Muda

Jakarta, 31 Juli 2026 — Membangun keseimbangan tradisi dan inovasi bukan perkara semudah membalik telapak tangan. Di satu sisi, tradisi memiliki aturan baku (pakem) sementara di sisi lain inovasi butuh terobosan agar muncul kebaruan. Gelaran penutup pada hari ketiga penyelenggaraan BTN Indonesia Fashion Week 2026 menjadi bukti antara tradisi dan inovasi bisa harmoni. 

 

Koleksi delapan desainer, di antaranya Lia Afif X Dekranasda Kabupaten Jombang, Nobby X Biyantie, Duai Fav, House of Syaira, Ayesha by MNO, Indah Darry X Lutsaf, Arinna Premium Hijab, Jiamila, dan Zahira by Kyoko mampu mengkreasikan wastra sebagai kain tradisi sarat akan nilai budaya dikreasikan secara apik, segar, dan tanpa menghilangkan konteks kulturalnya. 

 

Show bertajuk LUMINARA tersebut memperlihatkan kekayaan budaya Nusantara terus berkembang menjadi bahasa desain relevan bagi gaya hidup masa kini dengan mengekplorasi batik pewarna alam, motif kuliner tradisional, identitas budaya,hingga pendekatan ready-to-wear kontemporer.

 

Koleksi Lia Afif berkolaborasi dengan Dekranasda Kabupaten Jombang memperkenalkan koleksi Akasa Dharani, sebuah intepretasi mengenai harmoni antara langit dan bumi melalui Batik Tulis Jombang berpewarna alam.

 

“Kata Akasa berarti langit, direpresentasikan melalui keindahan gradasi warna biru pada kain batik. Sementara Dharani berarti bumi, dilambangkan oleh kehangatan nada warna coklat danhijau zaitun yang mencerminkan warna tanah. Seluruh elemen ini menyatu dalam satu kesatuan koleksi utuh dan menawan bersama Batik Jombang, kata Lia Afif. 

 

Menghadirkan 12 look, terdiri dari 11 busana perempuan dan 1 busana pria, koleksi ini mengeksplorasi siluet A-line dan I-line clear dengan permainan drapery, potongan asimetris, serta konstruksi modern menjadi ciri khas Lia Afif. Palet warna biru, hijau zaitun, dan krem menjadi representasi visual filosofi koleksi. Seluruh batik dikerjakan menggunakan pewarna alam dengan proses produksi membutuhkan ketelitian tinggi, bahkan satu lembar batik dapat diselesaikan lebih dari satu bulan.

 

Kreasi tidak hanya terjadi hanya pada satu ekosistem fashion, tetapi pula menjangkau hingga kuliner tradisional. DUAI FAV mengangkat identitas Saroja sebagai kudapan khas Priangan nan selama ini menjadi DNA desain label tersebut.

 

Di Indonesia Fashion Week 2026, DUAI FAV untuk pertama kalinya menerjemahkan bentuk Saroja ke dalam batik tulis melalui koleksi bertajuk Marcapada bermakna alam semesta, diwujudkan dalam eksplorasi motif, warna, dan detail menggambarkan keindahan bumi beserta kehidupannya. “Marcapada itu merupakan alam semesta, jadi keindahan alam semesta seperti busana dikenakan model,” kata desainer sekaligus pemilik Duai Fav, Bunna Ila. 

 

Koleksi ini menampilkan 12 look menjangkau berbagai segmen, termasuk rancangan khusus untuk Gen Z melalui perpaduan batik tulis dan brokat dengan siluet lebih ringan dan modern. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa batik dapat tampil segar tanpa kehilangan identitas budayanya. 

 

Hasil kreasi Duai Fav membuktikan tradisi selain dapat diwariskan juga sangat terbuka untuk diinterpretasi menjadi medium baru. Indah Darry X Lutsaf pun menghadirkan interpretasi baru terhadap budaya Betawi.

 

Alih-alih menggunakan simbol sudah umum dikenal, koleksi ini mengangkat motif kembang kelapa dengan pendekatan tribal serta warna-warna yang lebih dekat dengan preferensi generasi muda.

 

“Visi besarnya adalah menghadirkan desainer Betawi yang mampu membawa kekayaan budaya lokal menuju panggung internasional sekaligus memperkenalkan wastra Betawi dalam bahasa desain yang lebih kontemporer”, kata owner Lutsaf, Luthfiah. 

 

Mempertegas heritage juga dilakukan pada koleksi Zahira by Koyko memadukan inspirasi budaya pada wastra sebagai aksen dengan potongan modern diperkaya sentuhan blazer.

 

“Pendekatan desain difokuskan pada siluet dekat dengan preferensi generasi muda sehingga elemen budaya dapat dikenakan secara lebih kasual tanpa kehilangan nilai estetikanya,” kata Koyko

 

House of Syaira bahkan hadir dengan koleksi busana muslim dengan tema Blossomsy, sebagai representasi perempuan lembut, tenang, dan elegan. Koleksi ini dirancang sebagai busana easy-to-wear dapat dikenakan pada berbagai kesempatan, memanfaatkan material seperti satin dan embroidery dengan siluet ringan.

 

Melalui gelaran LUMINARA para desainer menegaskan keberlanjutan wastra Nusantara sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan desain relevan dengan gaya hidup generasi muda. (*)


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 1 =