
Memasuki hari kedua International Future Scientists Conference (IFSC) 2025, semangat para peserta Deeplomata 2 semakin menyala. Setelah sehari sebelumnya disibukkan dengan persiapan pameran, kini mereka memasuki inti kegiatan, sesi presentasi dan evaluasi ilmiah yang menjadi jantung dari konferensi ini. Acara berlangsung pada Rabu, 12 November 2024, di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi.
Saat Pengetahuan Bertemu Keberanian
Dimulai sejak pukul 09.00 pagi, suasana ruang konferensi terasa penuh antusiasme. Setiap peserta dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Tampil membawa hasil riset dan gagasan mereka di hadapan juri dan peserta internasional lainnya. Bagi Muhammad Akbar Kenzie, Shafiq Najwan Mubarak, dan Feral Narotama Zefanya, momen ini menjadi ajang pembuktian, bukan hanya tentang kemampuan akademik, tetapi juga kepercayaan diri dalam menyampaikan ide di panggung global.
Melalui sesi presentasi dan evaluasi, peserta mendapat kesempatan untuk mempresentasikan proyek ilmiah mereka, sekaligus menerima masukan langsung dari para evaluator yang berasal dari berbagai universitas dan lembaga penelitian. Umpan balik yang diberikan menjadi bekal berharga untuk memperdalam riset mereka di masa depan.
Lebih dari sekadar penilaian, sesi ini juga menjadi ruang dialog lintas budaya. Peserta saling bertukar pandangan, membandingkan metode penelitian, dan belajar menghargai pendekatan ilmiah yang beragam dari berbagai negara.
Belajar Strategi dari Para Ahli
Selepas sesi presentasi, konferensi dilanjutkan dengan Workshop 1 yang dipandu oleh YBhg. Prof. Ts. Dr. Mohd Ikmar Nizam Haji Mohd Isa, selaku Assistant Vice-Chancellor dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Dalam sesi ini, Beliau berbagi tentang pentingnya perencanaan strategis dalam pengembangan riset dan inovasi di tingkat universitas. Beliau menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Para peserta Deeplomata, termasuk Kenzie, Shafiq, dan feral, tampak aktif mengikuti sesi ini, mencatat setiap poin penting dan terlibat dalam diskusi. Banyak di antara mereka yang mengaku terinspirasi oleh cara pandang Prof. Ikmar terhadap riset yang berorientasi pada keberlanjutan dan dampak sosial.
Hari Kedua yang Sarat Makna
Meski agenda berakhir dihari ini, semangat belajar para peserta justru semakin tinggi. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman berbicara di forum ilmiah internasional, tetapi juga memahami bahwa menjadi ilmuwan berarti terus belajar, mendengar, dan beradaptasi. Bagi Muhammad Akbar Kenzie, Shafiq Najwan Mubarak, dan Feral Narotama Zefanya, hari ini bukan sekadar tentang tampil di depan juri, melainkan tentang menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri untuk membawa ide-ide mereka ke tingkat global. Perjalanan masih panjang, tetapi langkah mereka di panggung IFSC 2025 telah menandai awal dari kiprah baru, generasi muda yang siap bersuara di dunia ilmu pengetahuan internasional.






