Olahraga

Skema Akselerasi Sportpreneur: Simulasi Usaha, Kurasi, dan Validasi Pasar

Dari Ide ke Visual: Gallery Walk sebagai Ruang Uji Nyali Sportpreneur

Setelah bicara soal mindset, inovasi, dan digital marketing, Workshop Sportpreneur membawa peserta ke tahap yang lebih menantang: mempraktikkan ide usaha secara langsung. Bukan lewat teori panjang, tapi melalui simulasi usaha dengan pendekatan Gallery Walk—sebuah metode yang memaksa ide keluar dari kepala dan diuji di ruang publik.

Di sesi ini, peserta dibagi dalam kelompok dan diminta merancang konsep usaha di bidang olahraga. Tidak ada jawaban benar atau salah. Yang ada hanyalah satu tuntutan: ide harus jelas, relevan, dan bisa dijelaskan ke orang lain. Dari sinilah proses belajar yang sesungguhnya dimulai.

Setiap kelompok memvisualisasikan gagasannya dalam bentuk poster. Bukan sekadar tempelan kata-kata, tetapi representasi cara berpikir: siapa target pasarnya, apa nilai uniknya, bagaimana model usahanya, dan ke mana arah pengembangannya. Poster-poster ini kemudian dipajang, membentuk ruang pamer ide—sebuah “pasar mini” gagasan sportpreneur.

Format gallery walk membuat suasana terasa hidup. Peserta tidak duduk pasif mendengarkan, tetapi bergerak, bertanya, menjelaskan, dan menerima masukan. Ide yang awalnya terasa “aman” langsung diuji ketika harus dipresentasikan secara singkat, padat, dan meyakinkan. Di titik ini, banyak peserta menyadari satu hal penting: punya ide saja tidak cukup, ide harus bisa dikomunikasikan.

Masukan datang dari berbagai sudut, termasuk dari para panelis yang melihat konsep usaha peserta bukan hanya dari sisi kreativitas, tetapi juga dari sisi keberlanjutan dan realitas industri. Panelis yang terlibat dalam sesi ini adalah Bima Sinung Widagdo, Rahmat Rizky, dan Burhanudin Lutfi.

Masukan yang diberikan tidak menggurui, tetapi menantang peserta untuk berpikir lebih dalam. Ada ide yang terlihat menarik tapi belum punya arah pasar. Ada yang kreatif tapi belum realistis secara operasional. Ada pula yang sederhana, namun justru punya potensi dikembangkan lebih jauh jika dikelola dengan strategi yang tepat.

Di sinilah nilai utama gallery walk terasa kuat. Metode ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga mental terbuka terhadap kritik. Peserta belajar bahwa masukan bukan serangan, melainkan bahan bakar untuk memperbaiki konsep. Mereka belajar melihat ide dari sudut pandang orang lain—calon konsumen, mitra, maupun investor.

Simulasi ini juga menanamkan kebiasaan penting dalam dunia sportpreneur: berpikir kolaboratif. Tidak ada ide besar yang lahir dari kepala satu orang saja. Diskusi, perbedaan pendapat, dan kompromi justru menjadi proses yang memperkaya hasil akhir.

Lebih dari sekadar sesi praktik, gallery walk menjadi ruang latihan keberanian. Keberanian menyampaikan gagasan, menerima kritik, dan mengakui bahwa ide masih bisa berkembang. Ini adalah bekal penting bagi siapa pun yang ingin terjun ke dunia usaha olahraga, yang penuh dinamika dan perubahan cepat.

Pada akhirnya, pengembangan simulasi usaha dengan pendekatan gallery walk menunjukkan bahwa sportpreneur bukan hanya soal konsep di atas kertas. Ia adalah proses belajar terus-menerus, menguji ide, memperbaiki arah, dan menyesuaikan diri dengan realitas.

Melalui sesi ini, peserta tidak hanya pulang membawa poster, tetapi juga membawa pengalaman berharga: bagaimana sebuah ide olahraga bisa mulai dilihat sebagai usaha yang punya arah, nilai, dan potensi untuk tumbuh.


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight − 3 =