Mengapa di negeri ini, slogan nasionalisme dan cinta tanah air begitu mudah dijadikan senjata untuk membungkam empati publik?
Pertanyaan ini rasanya makin relevan ketika kita menyaksikan berondongan program pembangunan berbiaya fantastis yang diklaim “demi kemajuan bangsa”, tetapi pada kenyataannya justru berubah menjadi ladang korupsi, memperparah penyakit sosial, dan terkesan menutup mata dari penderitaan riil masyarakat.
Sebagai masyarakat yang mengamati dinamika publik dari kacamata komunikasi dan psikologi, kita patut bertanya: sejak kapan rasa kemanusiaan harus dikorbankan demi narasi nasionalisme yang semu?
Secara psikologi sosial, masyarakat sering dihadapkan pada fenomena manipulasi identitas kolektif. Narasi patriotisme kerap dipelintir oleh pembuat kebijakan untuk menciptakan kepatuhan buta. Ketika ada masyarakat atau akademisi yang mengkritik proyek bermasalah, dengan sangat mudah mereka distigma sebagai pihak yang “tidak nasionalis” atau “anti-pembangunan”.
Padahal, jika kita bedah secara komparatif, apakah nasionalisme yang sehat memang harus menuntut hilangnya rasa empati dan kemanusiaan?
Dalam kajian komunikasi publik, penafsiran nasionalisme yang dipisahkan dari rasa kemanusiaan adalah bentuk disinformasi nilai yang sangat berbahaya. Nasionalisme bukanlah selembar kain bendera atau megahnya proyek infrastruktur yang dijadikan ajang pengerukan keuntungan pribadi.
Nasionalisme yang utuh justru bersumber dari rasa kemanusiaan itu sendiri. Lantas, mengapa keduanya seolah dipaksa berjalan berseberangan?
Ketika sebuah kebijakan publik dirancang tanpa kepekaan empati, lalu dibungkus rapi dengan jargon cinta tanah air, bukankah itu bentuk pengkhianatan terbesar terhadap makna berbangsa? Bagaimana mungkin kita membanggakan nama negara jika manusia-manusia di dalamnya justru diabaikan dan dimanfaatkan?
Sudah saatnya kita meluruskan pemikiran publik. Menolak kebijakan yang nirempati, memprotes praktik korupsi berkedok proyek nasional, dan membela hak-hak kemanusiaan warga negara bukanlah tindakan pembangkangan. Sebaliknya, itu adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta tanah air.
Sebab pada akhirnya, sebuah pertanyaan mendasar harus kita renungkan bersama: untuk siapa sebenarnya negara ini ada, jika bukan untuk memanusiakan manusianya?
Oleh: Rahmat Rizky








