Berita

Indonesia Art Movement Terima Kunjungan Komite Eksekutif Otsus Papua, Perkuat Tata Kelola Kreatif dan Dorong Bakar Batu ke UNESCO

Y2F. Media — Indonesia Art Movement (IAM) secara resmi menerima kunjungan kerja strategis dari dua tokoh perfilman nasional, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, yang kini mendedikasikan peran mereka bagi pembangunan daerah. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan peninjauan lapangan secara mendalam terhadap realitas ekosistem seni dan budaya di Jayapura Papua, pada Kamis, 11 Februari 2026

Dalam kapasitasnya Ari Sihasale sebagai Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan dan Otonomi Khusus Papua, khususnya pada Pokja Koperasi Merah Putih, Ekonomi Kreatif, UMKM, Pariwisata, dan Budaya, kehadiran mereka menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem seni di wilayah paling timur Indonesia.

Kunjungan yang berlangsung di kediaman resmi Indonesia Art Movement ini bertujuan untuk melakukan peninjauan lapangan secara mendalam (ground-check) terhadap realitas ekosistem seni dan budaya di Papua.

Agenda ini difokuskan pada pemetaan potensi kreatif yang ada sekaligus mengidentifikasi berbagai hambatan sistemik yang dihadapi oleh para pelaku kreatif di tingkat akar rumput.

Pertemuan ini disambut langsung oleh kolektif strategis IAM, antara lain: Ketua IAM, Dosen ISBI Tanah Papua, dan Direktur Festival & Aktivasi Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Muhammad Ilham Mustain Murda (Iam Murda), Koordinator Papua ICCN & Tokoh Muda IKB PPM ELIMA Miki Wuka dan Mahasiswa ISBI Tanah Papua: Representasi regenerasi seniman akademik yang aktif dalam manajemen IAM.

Dalam pertemuan yang berlangsung di kediaman resmi IAM, Ketua IAM, Muhammad Ilham Mustain Murda, menekankan bahwa pembangunan seni di Papua harus bergeser dari sekadar peningkatan keterampilan teknis menuju penguatan pengetahuan manajemen dan tata kelola.

“Kami menegaskan bahwa komunitas seni di Papua harus naik kelas. Tidak boleh hanya mahir secara teknis seni, tapi juga harus kuat dalam manajemen dan tata kelola organisasi,” katanya.

Adapun poin penting yang disampaikan adalah Pertama, Profesionalisme Organisasi: Pentingnya pendampingan administrasi hukum (Akta Notaris) dan kompetensi manajemen keuangan agar komunitas seni memiliki akuntabilitas yang baik dalam mengelola pendanaan serta pajak.

Kedua, Kemandirian Ruang: Perlunya penguatan sarana edukasi, produksi, dan distribusi yang merata, meski dalam skala kecil namun konsisten, guna menopang ekspresi budayawan lokal.

Ketiga, Residensi dan Workshop: Peningkatan kapasitas SDM melalui program kerja yang konsisten, termasuk residensi antar-seniman nasional maupun internasional untuk menambah bobot komunitas.

Keempat, Pengarsipan Audio-Visual: Mendorong pendataan tradisi Papua tidak hanya dalam bentuk tertulis, tetapi melalui dokumentasi audio-visual yang kuat.

IAM juga fokus pada penguatan data untuk mengusulkan tradisi Bakar Batu menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO sebagai bentuk pelindungan marwah budaya Papua.

“Bakar Batu adalah simbol universal solidaritas dan penghormatan alam Papua yang wajib diakui dunia melalui UNESCO,” tambah Iam Murda.

Kunjungan ini diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem seni di wilayah paling timur Indonesia dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelindungan budaya lokal.


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =