InspirasiOpini

Rahmat Rizky Soroti Fenomena Media Sosial: Pabrik Orang Merasa Benar, Panggung Orang Terluka, dan Pengadilan Orang Marah

Ada satu hal yang jarang ingin kita akui tentang media sosial: manusia tidak selalu datang ke sana untuk mencari kebenaran. Sebagian datang untuk mencari pembenaran. Sebagian ingin didengar. Sebagian ingin membela. Dan sebagian lainnya hanya ingin menyaksikan seseorang dihancurkan, selama orang itu dianggap pantas menerimanya.

Yang lebih menarik, hampir semua orang bisa merasa dirinya sedang melakukan hal yang benar.

Orang yang mempermalukan orang lain menyebutnya edukasi. Orang yang menyebarkan potongan percakapan menyebutnya transparansi. Orang yang mengajak ribuan orang menyerang satu akun menyebutnya perjuangan. Orang yang menolak koreksi menyebutnya mempertahankan prinsip.

Di sinilah psikologi manusia bertemu dengan desain media sosial: kita tidak hanya mengunggah pendapat, tetapi juga mempertahankan identitas, mencari penerimaan, dan menguji apakah dunia bersedia berdiri di pihak kita.

Unpopular truth: manusia bisa menggunakan bahasa keadilan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya lebih dekat dengan pelampiasan.

Bukan berarti setiap orang yang memperjuangkan keadilan sedang berpura-pura. Bukan berarti korban harus diam. Dan bukan berarti semua kemarahan tidak beralasan.

Justru masalahnya lebih rumit.

Seseorang bisa memiliki alasan yang sah untuk marah, tetapi tetap melakukan tindakan yang tidak adil. Seseorang bisa benar mengenai sebuah peristiwa, tetapi keliru ketika menyebarkan informasi pribadi orang lain. Sebuah kelompok bisa memulai dengan tujuan yang baik, lalu kehilangan kendali ketika penghukuman menjadi lebih memuaskan daripada penyelesaian.

Kita sering menilai moralitas berdasarkan siapa yang sedang kita bela. Padahal, ukuran moralitas juga terletak pada apa yang bersedia kita lakukan kepada orang yang kita anggap salah.

Ketika media sosial mengubah konflik menjadi tontonan, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Siapa yang salah?”

Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: “Mengapa kita begitu menikmati kesempatan untuk merasa paling benar?”

Sebab, mungkin persoalan terbesar di media sosial bukan hanya banyaknya orang yang menyebarkan kebencian. Mungkin persoalannya adalah betapa mudahnya kebencian mendapatkan kostum moral, lalu tampil di hadapan publik sebagai keberanian.

Ditulis oleh Rahmat Rizky adalah penulis yang berfokus pada pengembangan diri dan perubahan hidup.


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + one =