Opini

Navigasi Pendidikan di Tengah Arus Disrupsi: Refleksi Hardiknas 2026

Oleh: Asep Supriatna, S.Pd., M.Ikom. (Wakil Kepala SDN Cempaka Putih Barat 01)

y2fmedia — Setiap tanggal 2 Mei, kita tidak sekadar merayakan seremoni tahunan, melainkan melakukan “audit spiritual” atas sejauh mana pendidikan kita telah memerdekakan akal dan budi pekerti anak bangsa. Di tahun 2026 ini, dunia pendidikan berdiri di persimpangan jalan antara kemajuan teknologi yang masif dan tantangan karakter yang semakin kompleks.

Sebagai pendidik, kita tidak bisa menutup mata terhadap isu-isu hangat yang sedang mendera dunia pendidikan saat ini.

Pertama, Isu Digitalisasi dan Kemanusiaan. Kita berada di era di mana kecerdasan buatan (AI) mulai merambah ruang kelas. Namun, refleksi Hardiknas tahun ini mengingatkan kita bahwa teknologi hanyalah alat. Inti dari pendidikan adalah interaksi manusiawi. Itulah mengapa di SDN Cempaka Putih Barat 01, kami membawa siswa kelas 4 langsung ke pasar untuk praktik ekonomi IPAS. Di sana, mereka belajar nilai mata uang dan sejarah pertukaran bukan lewat layar, melainkan lewat keringat dan senyum para pedagang. Ini adalah upaya kita menjaga sisi “manusia” di tengah gempuran digitalisasi.

Kedua, Isu Krisis Iklim dan Keberlanjutan. Pendidikan hari ini harus menjawab tantangan ekologi. Melalui komitmen “Sekolah Bebas Sampah” dan pembentukan Satgas Pengurangan Sampah yang melibatkan perwakilan tiap kelas, kami mendukung penuh program strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kita sedang mengajarkan bahwa menjadi cerdas tidaklah cukup jika tidak disertai kepedulian untuk mengurangi beban sampah yang dikirim ke Bantar Gebang. Kita mendidik mereka untuk menjadi warga dunia yang bertanggung jawab.

Ketiga, Isu Literasi Visioner dan Transportasi Modern. Literasi bukan lagi sekadar mengeja huruf, melainkan kemampuan bernavigasi di dunia modern. Kegiatan Edutrip mengenal MRT dan LRT yang kami laksanakan beberapa waktu lalu adalah cara kami mengenalkan rambu lalu lintas dan sistem transportasi publik yang beradab. Kita ingin anak-anak kita memiliki mentalitas global; anak yang tangguh, cerdas, dan siap menjadi pembawa perubahan.

Keempat, Isu Kesehatan Mental dan Penguatan Karakter. Di tengah tekanan prestasi akademik, kita harus memastikan ekosistem sekolah tetap harmonis. Doa bersama yang kita gelar bukan sekadar ritual, melainkan upaya menyatukan energi positif agar siswa tidak takut bermimpi besar namun tetap memiliki hati yang mulia. Kita ingin mereka menjadi pemimpin masa depan yang cerdas otaknya, jujur perilakunya, dan disiplin tindakannya.

Bersama Bapak Bambang Eko Prabowo, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Pusat

Hardiknas 2026 adalah momentum bagi kita—guru, orang tua, dan masyarakat—untuk terus berkolaborasi. Seperti semangat Ki Hajar Dewantara, mari kita ciptakan jembatan kesuksesan bagi anak-anak kita melalui kasih sayang dan motivasi yang konsisten.

Tugas kita bukan sekadar mencetak lulusan yang mahir menjawab soal ujian, tetapi melahirkan manusia-manusia tangguh yang mampu menjawab tantangan zaman dengan karakter yang membanggakan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Bergerak Bersama, Menuju Generasi Visioner yang Berakhlak Mulia.


>> Gabung di Channel WhatsApp 👉 Y2F Media <<
Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + twenty =