Y2F.Media — Hari ini 12 April 2026, kita kembali memperingati Hari Bapak Pramuka Indonesia, Kak Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Membaca kembali pidato Beliau di Konferensi Kepanduan Dunia, Tokyo (1971), kita akan menemukan gagasan- gagasan yang sangat progresif untuk masa depan Gerakan Pramuka. Gagasan yang masih aktual dan masih menjadi pekerjaan rumah Gerakan Pramuka hingga detik ini!
Bertahan atau Menjadi Museum?
Kak Sultan menegaskan bahwa satu-satunya cara bagi Pramuka untuk bertahan (survival) adalah dengan terus melakukan pembaruan (updating) dan adaptasi sesuai aspirasi kaum muda serta kebutuhan masyarakat. Beliau memberikan kritik tajam bagi penganut kepanduan yang hanya terjebak pada romantisme & simbolisme masa lalu. Petikan pidato Beliau:
“The real loyalty to B.P. and to our traditions resides not in insisting on knotting and signalisation (Semaphore), or in sending our boys to the forest to play Indians, but in helping them to become honest, efficient, loyal and responsible citizens.”
Cuplikan tersebut memberi pesan, bahwa kesetiaan yang nyata pada Baden-Powell bukanlah sekadar soal tali-temali, semaphore, dll, melainkan bagaimana membantu kaum muda menjadi warga negara yang jujur, efisien, dan bertanggung jawab bagi dunia. Oleh sebab itu Gerakan Pramuka harus terus bergerak memperbaiki metodologi dan kurikulum pembinaannya ke arah dimaksud, jika tidak ingin “dimuseumkan” oleh jaman. Sebuah tantangan yang sebenarnya tidak mudah.
Self-Education: Kunci Relevansi Gen Z
Kak Sultan menekankan prinsip self-education (pendidikan mandiri) sebagai ruh kepramukaan. Di era Gen Z yang mendambakan otonomi diri, gagasan ini sangat relevan. Gagasan ini terdiri dari:
Pertama, , Pendidikan Kepramukaan harus menempatkan anak muda sebagai subjek. Proses pendidikan harus bisa memfasilitasi pengembangan kapasitas anak muda memecahkan masalah aktual yang dihadapinya secara mandiri. (the problems must be solved by the boys themselves) dengan pendampingan orang dewasa.
Kedua, Pendidikan Kepramukaan bukan menyiapkan tenaga kerja murah: Keterlibatan Pramuka dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan (community development) jangan dianggap sebagai “tenaga kasar dan murah” yang bisa disuruh-suruh mengerjakan apa saja, melainkan harus dilibatkan sejak perencanaan hingga evaluasi proyek atau penilaian dampak kegiatan.
Semua kegiatan proyek sosial atau pengabdian masyarakat harus diletakkan dalam kerangka “learning by doing” dan “learning by experience”
Ketiga, Identitas Hasil Karya: Puncak pendidikan kepramukaan adalah ketika kaum muda bangga berkata, “Jalan raya ini, bendungan ini, kami sendiri yang membangunnya!”.
Pendidikan kepramukaan tidak hanya menghasilkan output, tetapi harus bisa menghasilkan outcome yang menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan anak muda terhadap hasil karyanya yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Dalam bahasa Gen Z, pendidikan yang menghasilkan output dan outcome yang inovatif dan solutif untuk mengatasi masalah yang dihadapi umat manusia.
Kepemimpinan Pelayanan: “Bantu Tanpa Menguasai”
Naskah Pidato Kak Sultan juga memberi pesan ke orang dewasa yang ingin berkecimpung dalam Gerakan Pramuka. Di tengah fenomena terpaan arus “organisasi kekuasaan”, beberapa pesan Kak Sultan ini perlu direnungkan kembali.
Kak Sulatan mengingatkan bahwa esensi kepemimpinan orang dewasa dalam Gerakan Pramuka adalah pelayanan, kesukarelawanan, keteladaan dan pengabdian, bukan dominasi kekuasaan apalagi otoritarian.
Kepemimpinan orang dewasa dalam kepramukaan menurut Kak Sulatan, bercirikan:
Bantu Tanpa Menguasai: Orang dewasa membantu dengan pengetahuan dan sumber daya, namun tidak boleh mengambil alih peran kaum muda dalam menyelesaikan masalah.
Replace Self by Service: Inti pendidikan kepramukaan adalah menggantikan kepentingan diri sendiri (dan kelompoknya) dengan pengabdian bagi sesama manusia (to replace self by service).
Ketulusan: Orang dewasa yang ingin mengabdikan diri dalam Gerakan Pramuka, harus bisa menjadi pribadi yang bekerja tanpa pamrih (unselfishly) dan dapat menjadi teladan untuk menyelesaikan tantangan zaman.
Menggugat “Inner Structure” dan Harapan pada Kamabinas
Sebagai catatan akhir penulis menggarisbawahi bahwa gagasan Kak Sultan yang menekankan agar orang dewasa berani “melepaskan” kendali terhadap anak muda tanpa khawatir “tersesat” karena sudah memberi bekal cukup, merupakan manifestasi pendidikan progresif yang melampaui zamannya. Beliau menegaskam bahwa kehadiran orang dewasa, untuk melayani tumbuh kembang peserta didik, bukan untuk “menguasai” apalagi mematikan jiwa kritis dan kreativitas.
Namun sayangnya, hingga saat ini, terutama di depan Gen Z, Gerakan Pramuka belum sepenuhnya mampu menghadirkan kerangka pendidikan progresif secara paripurna. Dalam konteks transformasi menuju pendidikan progresif yang diamanatkan UU Gerakan Pramuka, dan juga diamanatkan Kak Sultan organisasi ini tampak seperti “kelelahan dan keberatan beban”, sehingga seperti kehilangan fokus.
Banyak faktor penyebabnya dan cukup kompleks. Kecenderungan para pemimpin kwartir, gudep dan saka yang hanya melihat Pramuka dari aspek permukaan (surface structure) menyebabkan penyelesaian persoalan fundamental di bidang pendidikan dan latihan tidak menjadi prioritas utama, kalah prioritas dengan progrwm kegiatan-kegiatan besar dan masal, keramaian pemanfaatan aset (tanggible & intanggible), konflik kepentingan dan kekuasaa, upacara-upacara besar, penghargaan- penghargaan, dan lain-lainnya.
Masalah utama Gerakan Pramuka yang terletak pada inner structure —aspek filosofis, epistemologis, dan historis— kerap gagal dipahami oleh para pemimpin yang hanya mengejar posisi kekuasaan. Akibatnya, agenda transformasi dan revitalisasi tidak pernah benar-benar menyentuh akar masalah.
Di momentum hari baik ini, tentunya layak berharap agar Kamabinas, Bapak Presiden Prabowo Subianto, berkenan memberikan perhatian lebih kepada Gerakan Pramuka sebagai aset strategis bangsa. Jejak historis juga telah menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka adalah salah satu “pemegang saham” kemerdekaan republik ini.
Adalah sebuah paradoks jika pemegang saham kemerdekaan bangsa, justru nasibnya dibiarkan “terlunta-lunta” – “berjalan sendirian”. Jangan sampai pengabdian panjang Gerakan Pramuka sebagai pelaku genuine “politik kebangsaan” justru terjebak dan dikerdilkan oleh syahwat “politik kekuasaan” yang menyandera eksistensinya dan mereduksi peran strategisnya.
Perlu kiranya Kakak-kakak Mabinas menyadari, bangsa ini akan “menyesal” jika sampai Gerakan Pramuka kehilangan daya geraknya “menemani” generasi penerus bangsa menjadi generasi unggul karena terjebak dalam labirin “politik kekuasaan”, tanpa ada satu pihakpun yang bisa memberi jalan keluar.
Hanya dengan kembali ke arah pendidikan progresif yang visioner, kepemimpinan berbasis pengabdian, kerelawanan dan keteladanan, sebagaimana pesan Kak Sultan, Gerakan Pramuka akan tetap bisa menjadi kekuatan penentu (decisive factor) bagi masa depan bangsa dan negara ini, sebagaimana jejak sejarah kebangsaanya, yang telah ditorehkannya dengan sangat panjang sejak tahun 1912 lalu.
Selamat Hari Bapak Pramuka Indonesia, Kak Sultan Hamengkubuwono IX.
Anis Ilahi Wh
Purna DKD Yogyakarta








