Ada perjalanan karier yang dibangun dengan memilih satu jalur dan menekuninya selama bertahun-tahun. Rahmat Rizky justru mengambil jalan yang berbeda. Ia bergerak dari dunia akademik ke organisasi, dari pengembangan kompetensi ke ekosistem olahraga dan kewirausahaan, lalu kembali memperdalam pertanyaan tentang manusia melalui psikologi. Di antara berbagai persimpangan itu, ia menemukan satu persoalan yang sama: bagaimana manusia dan organisasi dapat berkembang dengan lebih baik.
Menariknya, semakin jauh melihat perjalanan Rahmat, semakin sulit menempatkannya hanya dalam satu label. Ia memiliki pengalaman dalam strategic leadership, pengembangan strategi akademik, transformasi digital, komunikasi persuasif, hingga pengelolaan organisasi. Pada saat yang sama, ia membangun yayasan, menjalankan peran sebagai Chief Operating Officer Sportprener Indonesia, dan terlibat dalam pengembangan program yang mempertemukan olahraga, entrepreneurship, profesionalisme, serta pemberdayaan masyarakat.
Di tengah perjalanan tersebut, ada satu capaian yang memberi warna tersendiri. Pada 2026, Rahmat menyelesaikan Master of Islamic Psychology and Counseling di International Open University, Gambia, dengan GPA 3,82 dan predikat Cum Laude. Pilihan untuk mendalami psikologi Islam dan konseling terasa menarik jika disandingkan dengan perjalanan profesionalnya yang banyak bersentuhan dengan kepemimpinan, organisasi, komunikasi, dan pengembangan manusia.
Sebab, di balik strategi yang bagus, teknologi yang semakin canggih, dan organisasi dengan sistem yang rapi, tetap ada manusia yang menjalankannya. Di titik inilah perjalanan Rahmat menjadi lebih dari sekadar rangkaian jabatan dan pendidikan. Ada upaya untuk memahami bagaimana pengetahuan, kepemimpinan, teknologi, dan pemahaman tentang manusia dapat bertemu dalam satu ekosistem yang menghasilkan perubahan nyata.
Akademik sebagai Titik Berangkat
Perhatian Rahmat terhadap dunia akademik berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berjalan sendiri tanpa membaca perubahan yang terjadi di masyarakat.
Institusi pendidikan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar memastikan proses belajar mengajar berlangsung. Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja, tuntutan kompetensi baru, serta konektivitas global memaksa institusi untuk terus meninjau kembali cara mereka bekerja.
Rahmat melihat persoalan tersebut dari sisi strategis.
Riset dan inovasi, menurut pendekatan yang ia bangun, perlu diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat memperkuat institusi. Teknologi perlu digunakan untuk menyelesaikan persoalan, bukan sekadar mengikuti tren. Sementara pengelolaan sumber daya harus diarahkan pada tujuan yang jelas dan berkelanjutan.
Cara pandang tersebut kemudian membentuk salah satu bidang kompetensinya: academic strategy and innovation development.
Baginya, strategi bukan sekadar dokumen yang tersimpan dalam ruang rapat. Strategi baru memiliki arti ketika mampu mengubah cara organisasi mengambil keputusan dan bekerja.
Kepemimpinan yang Berhadapan dengan Manusia
Di atas kertas, kepemimpinan dapat terlihat seperti kemampuan menentukan arah. Dalam praktiknya, persoalan menjadi jauh lebih rumit.
Setiap keputusan melibatkan manusia dengan latar belakang, kepentingan, dan cara berpikir yang berbeda.
Karena itu, Rahmat memberi perhatian pada strategic leadership sekaligus protocol and persuasive communication. Kemampuan mengambil keputusan perlu berjalan bersama kemampuan menyampaikan gagasan dan membangun hubungan.
Pengalaman tersebut menjadi semakin relevan ketika ia bekerja dengan banyak kelompok yang berbeda.
Di satu sisi terdapat akademisi dan institusi. Di sisi lain ada profesional, atlet, pelatih, komunitas, mitra bisnis, dan berbagai pemangku kepentingan. Masing-masing membawa bahasa dan kepentingannya sendiri.
Menjembatani perbedaan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara. Dibutuhkan kemampuan membaca situasi.
Ketika Dunia Akademik Bertemu Olahraga
Peran Rahmat sebagai Chief Operating Officer Sportprener Indonesia memperluas ruang kerjanya ke dunia olahraga dan kewirausahaan.
Di posisi tersebut, ia mengembangkan dan menjalankan strategi operasional untuk mendukung pertumbuhan organisasi dan tujuan jangka panjang. Ia juga terlibat dalam perancangan program yang berkaitan dengan olahraga, entrepreneurship, pengembangan profesional, dan community engagement.
Ruang ini memberikan pengalaman yang berbeda.
Dunia olahraga memperlihatkan bagaimana disiplin, kompetisi, kerja tim, dan performa bertemu dalam satu arena. Dunia entrepreneurship menuntut keberanian mengambil keputusan dan kemampuan membaca peluang. Sementara pengembangan profesional membutuhkan pemahaman mengenai bagaimana seseorang dapat terus meningkatkan kapasitasnya.
Ketiganya memiliki satu kesamaan: manusia menjadi pusatnya.
Karena itu, pengalaman Rahmat di sektor olahraga tidak berdiri sebagai episode terpisah dari perjalanan akademiknya. Justru dari sana terlihat bagaimana gagasan mengenai pengembangan manusia dapat diterapkan di luar institusi pendidikan formal.
Mendirikan Yayasan dan Mengurus Hal yang Tidak Terlihat
Pada 2021, Rahmat mendirikan Yayasan Akselerasi Kompetensi Anak Negeri.
Nama tersebut membawa gagasan yang cukup jelas: mempercepat peningkatan kompetensi masyarakat.
Namun membangun organisasi tidak berhenti pada membuat program. Ada pekerjaan lain yang sering kali tidak terlihat dari luar, mulai dari membangun tata kelola, mengelola sumber daya, menjaga hubungan dengan mitra, hingga memastikan organisasi dapat mempertanggungjawabkan aktivitasnya.
Rahmat memberikan perhatian pada bagian tersebut.
Ia mengembangkan sistem pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel, termasuk pelaporan kepada Dewan Pengawas dan pemenuhan kewajiban pelaporan tahunan organisasi.
Di tingkat yang lebih luas, ia membangun relasi dengan mitra dari berbagai lapisan, baik komunitas akar rumput maupun institusi.
Pendekatan ini memperlihatkan satu hal: bagi Rahmat, organisasi bukan hanya tentang seberapa besar sebuah gagasan terdengar, tetapi juga seberapa kuat sistem yang menopangnya.
Mengapa Memilih Psikologi?
Pertanyaan ini menjadi menarik ketika melihat latar belakang profesional Rahmat.
Mengapa seseorang yang berkecimpung dalam strategi organisasi, akademik, teknologi, dan kepemimpinan memilih memperdalam Islamic Psychology and Counseling?
Jawabannya dapat dilihat dari satu fakta sederhana: hampir seluruh pekerjaan tersebut pada akhirnya berhubungan dengan manusia.
Strategi dijalankan oleh manusia. Organisasi digerakkan oleh manusia. Teknologi digunakan oleh manusia. Kepemimpinan bekerja melalui hubungan antarmanusia.
Karena itu, memahami manusia menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari memahami organisasi.
Pada 2026, Rahmat menyelesaikan Master of Islamic Psychology and Counseling di International Open University, Gambia, dengan GPA 3,82 dan predikat Cum Laude.
Capaian tersebut bukan hanya menambah satu baris pada perjalanan akademiknya. Ia juga memperkuat arah pemikirannya tentang hubungan antara manusia, kepemimpinan, pengembangan diri, dan organisasi.
Tidak Berhenti pada Satu Keahlian
Selain pendidikan formal, Rahmat juga mengikuti berbagai program pengembangan kompetensi, termasuk Business and Decent Work: An Introduction to the MNE Declaration serta Evaluation for Resilience Masterclass: Transition from Informality to Formality.
Jika seluruh pengalaman tersebut disusun dalam satu garis waktu, terlihat kecenderungan yang konsisten: Rahmat terus memperluas perspektif.
Ia tidak membangun kompetensi dengan hanya bertumpu pada satu bidang.
Akademik memberinya kerangka berpikir. Organisasi memberinya ruang untuk menguji gagasan. Dunia olahraga mempertemukannya dengan dinamika performa dan kerja tim. Kewirausahaan memperkenalkannya pada keberanian membaca peluang. Psikologi membawanya lebih dekat pada persoalan manusia. Sementara teknologi membuka cara baru untuk mengembangkan organisasi.
Persilangan itulah yang menjadi bagian penting dari profil Rahmat Rizky.
Bukan Tentang Seberapa Banyak Jabatan
Ada kecenderungan dalam melihat perjalanan profesional seseorang dengan menghitung jabatan, gelar, dan sertifikat.
Tetapi jika pendekatan tersebut digunakan untuk membaca Rahmat, ada bagian penting yang mungkin terlewat.
Yang lebih menarik justru hubungan antara satu pengalaman dengan pengalaman lainnya.
Pendidikan tingginya tidak berhenti pada pencapaian akademik. Pengalaman organisasi tidak berhenti pada jabatan. Pendirian yayasan tidak berhenti pada status founder. Dan capaian Cum Laude tidak berhenti pada angka GPA.
Semuanya menjadi bagian dari proses membangun cara berpikir.
Pada akhirnya, perjalanan Rahmat Rizky memperlihatkan seseorang yang memilih untuk terus berpindah ruang tanpa kehilangan arah.
Ruangnya boleh berubah. Dari kampus ke organisasi, dari olahraga ke kewirausahaan, dari teknologi ke psikologi. Namun perhatian terhadap pengembangan manusia dan organisasi tetap menjadi benang merah yang menghubungkan semuanya.
Dan mungkin, di situlah letak menariknya perjalanan tersebut.
Bukan karena Rahmat memiliki banyak peran, tetapi karena ia berusaha menemukan hubungan di antara berbagai peran itu untuk menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana membangun manusia dan organisasi yang mampu bertumbuh ketika dunia terus berubah?








